Sunday, April 12, 2009

Ilmu Pengetahuan Dan Spiritual

Oleh : I Wayan Gede Suacana & Kadek Yudhiantara

Dalam beberapa dekade terakhir ini kecenderungan arah ilmu pengetahuan lebih tertuju kepada sesuatu yang berkenaan berbagai jenis fanomena material yang dapat diamati di alam semesta ini. Spiritualitas sebagai titik pusat pengembangan semua agama di dunia, yang juga merupakan titik pertemuan ilmu pengetahuan karena keduanya memiliki tujuan ilmu yang sama yaitu penyelidikan tentang realitas terakhir sedikit dipinggirkan. Ilmu pengetahuan yang mempelajari realitas dunia material menjadi lebih dominan dibandingkan spiritual yang lebih banyak menyoroti realitas keberadaan jiwa manusia dalam hidupnya.

Spiritualitas dan Ilmu pengetahuan idealnya bersinergi dan berjalan secara parallel, karena ilmu pengetahuan akan memperkaya kehidupan dengan kebahagiaan material sedangkan spiritualitas meningkatkan serta memuliakan kahidupan kemudian mengisinya dengan ketenangan, ketentraman, kepuasan diri, kasih sayang, kedamaian, kesucian, keselarasan dan kebahagiaan.

Dalam Upanisad dikatakan bahwa ada dua macam hal sesungguhnya yang dicari manusia. Yang pertama, berhubungan dengan dunia material yang fana, dan yang kedua metode atau cara mengatasinya yang akan membawanya pada realitas akhir yang immortal. Vedanta sendiri menganggap kehidupan dunia sebagai bagian dari integral dari kehidupan spiritual. Pemisahan salah satu dari yang lainnya dianggap sebagai ketidaktahuan belaka tentang kebenaran hidup.

Pada awalnya penduduk dunia kurang lebih satu milyar. Waktu itu jumlah orang yang mendalami kerohaniaan atau spiritualitas dengan tujuan pembebasan cukup besar. Kini penduduk dunia terus bertambah namun pencari pembebasan justru berkurang. Dengan bertambahnya penduduk seharusnya peminat spiritualitas juga bertambah secara seimbang tetapi hal ini tidak terjadi. Keadaan ini cukuplah dipahami sebagai salah satu ciri zaman kali.

Setiap orang mempunyai dua organ penting, Kepala dan Hati. Prawrithi (minat pada dunia lahiriah) timbul dari kepala, sementara Niwrithi (minat pada rohaniah) timbul dari hati. Apa yang terjadi dan dapat disaksikan saat sekarang adalah pertumbuhan angan-angan yang berlebihan dalam kepala. Ini berarti bahwa keterlibatan dalam dunia lahiriah berkembang terus dari waktu ke waktu. Tetapi rasa batiniah tidak berkembang bersama-sama dengan keteguhan dan kesucian. Perubahan zaman dan dunia tidak diikuti oleh perkembangan hati manusia. Dengan tidak berkembangnya hati manusia kesempurnaan, tidak akan tercapai.

Mengapa hati manusia dewasa ini tidak berkembang ? Mengapa hanya kemampuan otak dan rasionalitasnya saja yang berkembang ? Banyak kalangan yang mensinyalir hal itu disebabkan oleh system pendidikan sekuler yang dianut sekarang. Paradigma pendidikan jenis ini mengalihkan perhatian manusia kepada dunia lahiriah dan pengetahuan duniawi, serta menjauhkannya dari pengetahuan spiritual. Manusia seolah enggan memasuki dunia yang terbentang luas di dalam dirinya sendiri.

Sistem pendidikan idealnya berupaya manuju titik keseimbangan antar pengetahuan duniawi dan spiritual. Banyak Guru Suci dari berbagai disiplin dan tradisi spiritual, telah hadir dimuka bumi untuk membantu manusia mengisi ruang hati mereka dengan cahaya kebijaksanaan spiritual. Ajaran kebijaksanaan yang sangat purwakala, Veda pun ditegakkan kembali. Para Guru spiritual itu tanpa kenal lelah mengajak kita untuk berkebun bunga kebajikan, menanam pohon-pohon kedamaian, menyiraminya dengan air pengetahuan dan memupuknya dengan kasih sayang.
Mereka datang seolah bergelombang dari satu jaman ke jaman lainnya, dengan senyum, wacana dan spirit yang sama meski dalam rupa dan jubah warna warni, untuk menegakkan kembali pilar pilar spiritual yang lapuk dari dalam hati manusia. Ajaran para Guru Suci itu muncul dan mengeruak kepermukaan dari samudra kebijaksanaan Veda-Vedanta yang tak bertepi atau turun mengalir dari puncak bukit kedamaian tertinggi, untuk mengingatkan kembali manusia betapa indahnya hidup manusia bila dihiasi kebun bunga kebajikan yang tumbuh subur diatas tanah lapang spiritual hati manusia.

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Post a Comment