Thursday, April 23, 2009

Arti dan Fungsi Sarana Upakara

Berikut ini adalah tulisan tentang rangkuman pada buku arti dan fungsi sarana upakara.

Salah satu bentuk pengamalan beragama Hindu adalah berbhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Disamping itu pelaksanaan agama juga di laksanakan dengan Karma dan Jnyana. Bhakti, Karma dan Jnyana Marga dapat dibedakan dalam pengertian saja, namun dalam pengamalannya ketiga hal itu luluh menjadi satu. Upacara dilangsungkan dengan penuh rasa bhakti, tulus dan ikhlas. Untuk itu umat bekerja mengorbankan tenaga, biaya, waktu dan itupun dilakukan dengan penuh keikhlasan.

Untuk melaksanakan upacara dalam kitab suci sudah ada sastra-sastranya yang dalam kitab agama disebut Yadnya Widhi yang artinya peraturan-peraturan beryadnya. Puncak dari Karma dan Jnyana adalah Bhakti atau penyeraha diri. Segala kerja yang kita lakukan pada akhirnya kita persembahkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dengan cara seperti itulah Karma dan Jnyana Marga akan mempunyai nilai yang tinggi.

Kegiatan upacara ini banyak menggunakan simbul-simbul atau sarana. Simbul - simbul itu semuanya penuh arti sesuai dengan fungsinya masing-masing. Berbhakti pada Tuhan dalam ajaran Hindu ada dua tahapan, yaitu pemahaman agama dan pertumbuhan rokhaninya belum begitu maju, dapat menggunakan cara Bhakti yang disebut ”Apara Bhakti”. Sedangkan bagi mereka yang telah maju dapat menempuh cara bhakti yang lebih tinggi yang disebut ”Para Bhakti”.

Apara Bhakti adalah bhakti yang masih banyak membutuhkan simbul-simbul dari benda-benda tertentu. Sarana-sarana tersebut merupakan visualisasi dari ajaran-ajaran agama yang tercantum dalam kitab suci. Menurut Bhagavadgita IX, 26 ada disebutkan : sarana pokok yang wajib dipakai dasar untuk membuat persembahan antara lain:
- Pattram = daun-daunan,
- Puspam = bunga-bungaan,
- Phalam = buah-buahan,
- Toyam = air suci atau tirtha.
Dalam kitab-kitab yang lainnya disebutkan pula Api yang berwujud “dipa dan dhÅ­pa” merupakan sarana pokok juga dalam setiap upacara Agama Hindu. Dari unsur-unsur tersebut dibentuklah upakara atau sarana upacara yang telah berwujud tertentu dengan fungsi tertentu pula. Meskipun unsur sarana yang dipergunakan dalam membuat upakara adalah sama, namun bentuk-bentuk upakaranya adalah berbeda-beda dalam fungsi yang berbeda-beda pula namun mempunyai satu tujuan sebagai sarana untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa.



Arti dan Fungsi Bunga

Arti bunga dalam Lontar Yadnya Prakerti disebutkan sebagai ”... sekare pinako katulusan pikayunan suci”. Artinya, bunga itu sebagai lambang ketulusikhlasan pikiran yang suci. Bunga sebagai unsur salah satu persembahyangan yang digunakan oleh Umat Hindu bukan dilakukan tanpa dasar kita suci.

Untuk fungsi bunga yang penting yaitu ada dua dalam upacara. Berfungsi sebagai simbul, Bunga diletakkan tersembul pada puncak cakupan kedua belah telapak tangan pada saat menyembah. Setelah selesai menyembah bunga tadi biasanya ditujukan di atas kepala atau disumpangkan di telinga. Dan fungsi lainnya yaitu bunga sebagai sarana persembahan, maka bunga itu dipakai untuk mengisi upakara atau sesajen yang akan dipersembahkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa ataupun roh suci leluhur.

Dari Bunga, buah dan daun di Bali dibuat suatu bentuk sarana persembahyangan seperti : canang, kewangen, bhasma dan bija. Canang, kewangen, bhasma dan bija ini adalah sarana persembahyangan yang berasal dari unsur bunga, daun, buah dan air. Semua sarana persembahyangan tersebut memiliki arti dan makna yang dalam dan merupakan perwujudan dari Tatwa Agama Hindu.

Adapun arti dari masing-masing sarana tersebut antara lain yaitu :


1. Canang

Canang ini merupakan upakara yang akan dipakai sarana persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Bhatara Bhatari leluhur. Unsur - unsur pokok daripada canang tersebut adalah:

a. Porosan terdiri dari : pinang, kapur dibungkus dengan sirih.
Dalam lontar Yadnya Prakerti disebutkan : pinang, kapur dan sirih adalah lambang pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Tri Murti.
b. Plawa yaitu daun-daunan yang merupakan lambang tumbuhnya pikiran yang hening dan suci, seperti yang disebutkan dalam lontar Yadnya Prakerti.
c. Bunga lambang keikhlasan
d. Jejahitan, reringgitan dan tetuasan adalah lambang ketetapan dan kelanggengan pikiran.
e. Urassari yaitu berbentuk garis silang yang menyerupai tampak dara yaitu bentuk sederhana dari pada hiasan Swastika, sehingga menjadi bentuk lingkaran Cakra setelah dihiasi.

2. Kewangen

Kewangen berasal dari bahasa Jawa Kuno, dari kata “Wangi” artinya harum. Kata wangi mendapat awalan “ka” dan akhiran “an” sehingga menjadi “kewangian”, lalu disandikan menjadi Kewangen, yang artinya keharuman. Dari arti kata kewangen ini sudah ada gambaran bagi kita tentang fungsi kewangen untuk mengharumkan nama Tuhan.

Arti dan makna unsur yang membentuk kewangen tersebut adalah Kewangen lambang ”Omkara”. Kewangen disamping sebagai sarana pokok dalam persembahyangan, juga dipergunakan dalam berbagai upacara Pancayadnya. Kewangen sebagai salah satu sarana penting untuk melengkapi banten pedagingan untuk mendasari suatu bangunan.

Demikian pula dalam upacara Pitra Yadnya, ketika dilangsungkan upacara memandikan mayat, kewangen diletakkan di setiap persendian orang meninggal yang jumlahnya sampai 22 buah kewangen, dimana fungsi kewangen disini adalah sebagai lambang Pancadatu (lambang unsur-unsur alam) sendang fungsi Kawangen dalam upacara memandikan mayat sebagai pengurip-urip.

3. Bunga sebagai Lambang, antara lain
a. Bunga lambang restu dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa
b. Bunga lambang jiwa dan alam pikiran.
c. Bunga yang baik untuk sarana keagamaan.



Arti dan Fungsi Api Dhupa dan Dipa

Dalam persembahyangan Api itu diwujudkan dengan : Dhupa dan Dipa. Dhupa adalah sejenis harum-haruman yang dibbakar sehingga berasap dan berbau harum. Dhupa dengan nyala apinya lambang Dewa Agni yang berfungsi :

1. Sebagai pendeta pemimpin upacara
2. Sebagai perantara yang menghubungkan antara pemuja dengan yang dipuja
3. Sebagai pembasmi segala kotoran dan pengusir roh jahat
4. Sebagai saksi upacara dalam kehidupan.

Kalau kita hubungkan antara sumber-sumber kitab suci tentang penggunaan api sebagai sarana persembahyangan dan sarana upacara keagamaan lainnya, memang benar, sudah searah meskipun dalam bentuk yang berbeda. Disinilah letak keluwesan ajaran Hindu yang tidak kaku itu, pada bentuk penampilannya tetapi yang diutamakan dalam agama Hindu adalah masalah isi dalam bentuk arah, azas harus tetap konsisten dengan isi kitab suci Weda. Karena itu merubah bentuk penampilan agama sesuai dengan pertumbuhan zaman tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Ia harus mematuhi ketentuan-ketentuan sastra dresta dan loka drsta atau : desa, kala, patra dan guna.



Arti dan Fungsi Tirtha

Air merupakan sarana persembahyangan yang penting. Ada dua jenis air yang dipakai dalam persembahyangan yaitu : Air untuk membersihkan mulut dan tangan, kedua air suci yang disebut Tirtha. Tirtha inipun ada dua macamnya yaitu: tirtha yang di dapat dengan memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan Bhatara-bhatari dan Tirtha dibuat oleh pendeta dengan puja.
Tirtha berfungsi untuk membersihkan diri dari kekotoran maupun kecemaran pikiran. Adapun pemakaiannya adalah dipercikkan di kepala, diminum dan diusapkan pada muka, simbolis pembersihan bayu, sabda, dan idep. Selain sarana itu, biasanya dilengkapi juga dengan bija, dan bhasma yang disebut gandhaksta.

Tirtha bukanlah air biasa, tirtha adalah benda materi yang sakral dan mampu menumbuhkan persanaan, pikiran yang suci. Untuk asal usul kata Tirtha sesungguhnya berasal dari bahasa Sansekertha.

Macam - macam Tirtha untuk melakukan persembahyangan ada dua jenis yaitu tirtha pembersihan dan tirtha wangsuhpada. Arti dan makna tirtha ditinjau dari segi penggunaannya dapat dibedakan sebagai berikut :

a. Tirtha berfungsi sebagai lambang penyucian dan pembersihan
b. Tirtha berfungsi sebagai pengurip / penciptaan.
c. Tirtha berfungsi sebagai pemeliharaan

Dalam Rg Weda I, bagian kedua sukta 5, mantra 2 dan 5 dijelaskan Dewa Indra sebagai pemberi air soma yang merupakan air suci. Mantra adalah Weda, sehingga kitab Catur Weda disebut kitab Mantra, karena tersusun dalam bentuk syair-syair pujaan. Mantra itu banyak macam dan ragamnya, ada mantra yang hanya terdiri dari dua, tida atau lima suku kata seperti: Om Ang Ah, Ang Ung Mang, Sang Bang Tang Ang Ing dan sebagainya. Mantra juga disebut ”Bija Mantra”. Suku kata yang demikian itu dianggap mengandung sakti, disebut ”Wijaksara”.

Mantra yang digunakan sebagai pengantar upacara disebut : Brahma. Nama ini kemudian digunakan untuk menyebutkan, Ia yang maha kuasa. Mantra yang ditujukan kepada Tuhan dalam salah satu manifestasinya disebut ”Stawa” misalnya ”Siwastawa, Barunastawa, Wisnustawa, Durghastawa, dan sebagainya.

Mantra pada umumnya memakai lagu dan irama, sehingga mantra juga disebut ”Stotra”. Dalam sekian banyak mantra, contoh dua buah mantra yaitu mantra ”Puja Trisandhya” dan mantra ”Apsudewastawa” dapat diambil kesimpulan bahwa mantra adalah sebagai sarana persembahyangan yang berwujud bukan benda (non material) yang harus diucapkan dengan penuh keyakinan. Tanpa keyakinan semua sarana persembahyangan itu akan sia-sia, untuk dapat menghubungkan diri dengan yang dipuja.

Sunday, April 12, 2009

Mengurai Nyepi dan Saka

Dikutip dari : Tabloid Pasupati
Oleh : Ida Pandita Mpu
Dharma Mukti Sidha Kerti .

Hari Raya Nyepi menjadi salah satu hari raya besar, memiliki sekelumit kisah yang berasal dari tanah India pada abad sebelum masehi, Perayaan ini juga menjadi sebuah sejarah, dimana berhentinya pertikaian yang terjadi antar suku yang ada di India.

Hari Raya Nyepi jatuh pada Tilem Kesanga di bulan Maret, merupakan salah satu hari raya besar bagi umat Hindu Bali. Hari yang menurut sejarah pelaksanaannya dimulai sejak tahun 78 masehi, memiliki sekelumit kisah yang bisa menjadi sebuah refleksi bagi umat Hindu yang ada di Indonesia.
Mengingat pada tahun 248 masehi, pertikaian antar – suku di India sangat memprihatinkan , dalam jaman itu pertikaian selalu mewarnai suku-suku di India , beberapa suku yang ada , seperti : Pahlawa, Saka, Yuehchi, Yawana dan Makawa, selalu bertikai dengan tujuan mencari Kekuasaan.

Suku – suku tersebutpun silih berganti mengalami kemenangan, mulai ketika suku Pahlawa mengalahkan suku Yawana dan suku Saka , lalu suku Saka berhasil mengalahkan suku lainnya sehingga kembali harus berhadapan dengan suku yang sebelumnya pernah menaklukannya. Kemudian suku Saka sempat mengalami masa kejayaan pada tahun sebelum masehi , menyadari pertikaian yang masih berlangsung, suku bangsa Saka yang terdiri dari "Saka Tigrakhauda, Saka Haumawarga dan Saka Taradaraya”, mengubah garis perjuangan mereka yang sebelumnya dibawah garis Politik dan Militer.

Kali ini diganti garis perjuangan Kebudayaan, hal tersebut mengakibatkan kebudayaan suku bangsa Saka melekat di dalam kehidupan se hari-hari rakyat, pada saat kekuasaan suku Saka, penanggalan yang digunakan oleh Negara adalah menggunakan penanggalan berdasarkan letak posisi matahari yang dikenal dengan penanggalan “Saka”.

Sekitar tahun 125 sebelum masehi, suku bangsa Yueh-chi yang memegang tapuk kekuasaan, melihat suku bangsa Saka yang mengubah arah perjuangannya, suku bangsa Yueh-chi yang saat itu dipimpin dinasti Kusana merasa terketuk hatinya , pasalnya ketika suku bangsa Saka memegang kekuasaan, tidak ada tindakan penindasan yang dilakukan kepada suku bangsa yang tunduk dibawah kekuasaannya.

Berbagi seni dan budaya yang dihidupkan akhirnya dijadikan”Kebudayaan Negara”, hingga pada tahun 78 masehi, seorang dari dinasti Kusana bernama “Kaniska” dilantik menjadi seorang raja. Dengan bijaksana diresmikanlah kalender tahun Saka sebagai system pengalenderan yang berlaku pada zaman tersebut, saat peresmian, ada beberapa bulan yang ditetapkan pada saat itu , di antaranya Chitirai atau disebut dengan Mesha dan istilah lainnya Waisaka.

Dalam istilah Bali dinamakan sasih Kadasa , serta masih banyak lagi nama bulan yang ditetapkan dalam penanggalan saka saat itu , tepatnya pada 21 Maret 79 masehi hal tersebut dilakukan untuk mengenang kejayaan suku bangsa Saka dan merupakan hari penobatan menjadi seorang raja. Pada saat kepemimpinan Raja Kaniska, banyak sekali kemajuan yang terjadi, kesetabilan politik dan toleransi umat Hindu dan Bhuda selalu berjalan sinergis, berbagai kesenian dan kebudayaan dari beberapa suku bangsa yang ada menjadi berkembang dan tetap lestari.

Selain itu penghargaan tertinggi untuk para umat agama yang ada pada saat itu, dibuktikan dengan seringnya melakukan pertemuan besar antar – umat beragama yang pada saat itu adalah Hindu dan Budha, pesamuan agung atau yang disebut sidang raya tersebut, dilakukan oleh Kaniska untuk menjaga kerukunan umat beragama, agar selalu bisa beriringan dalam membangun pemerintahan.

Hubungan diplomasi keluar, seperti dengan Yunani, China dan India bagian selatan berlangsung kian baik , beberapa pengaruh dari kekuasaan raja Kaniska juga dapat dilihat dari banyak hal , salah satunya dari system penanggalan yang digunakan oleh beberapa kawasan India bagian timur dan India bagian Utara.

Ketika pengaruh tahun saka belum masuk, bangsa – bangsa tersebut masih menganut penanggalan Chandra, yakni berpatokan pada letak posisi bulan, hingga akhirnya pengaruh penanggalan sampai ke Bali dan dipadukan penggunaannya dengan penanggalan Chandra yang digunakan sampai saat ini hanya saja, karena perbedaan letak geografis dan tempat yang menjadikan perbedaan letak posisi matahari, akhirnya membedakan ketepatan jatuhnya perayaan Tahun Baru Saka di Indonesia dengan perayaan Tahun Baru Saka India.

Pada saat Tahun Baru Saka yang jatuh setelah Tilem sasih kesanga, beberapa lontar menyebutkan adanya ritual yang harus dilakukan oleh umat Hindu di Bali, seperti halnya yang terdapat di lontar Sri Aji Kasanu, dimana disebutkan ada salah satu ritual yang ditafsir dengan istilah Nyepi, adapun beberapa bait lontar menyebutkan ; "ring tileming sasih kesanga patut mapraketi caru tawur wastanya, sadulur Nyepi awengi".
Kalimat tersebut bermakna , bahwa pada tilem sasih kesanga, patut melakukan upacara Bhuta Yadnya yaitu caru yang disebut dengan “Tawur”, yang dilanjutkan dengan Nyepi sehari , sehingga setelah melakukan upacara tawur pada tilem sasih kesanga , umat Hindu di Bali pada umumnya melakukan yang disebut dengan Nyepi untuk menyambut datangnya sasih Kadasa yang merupakan awal dari Tahun Baru Saka.

Perlukah Kita Memantra ?

Menurut Svami Siwananda

PRANAWA

OM, (Aum) adalah segala-galanya.
OM adalah nama suci Tuhan, Isvara atau Brahman.
OM adalah nama sejati-MU.
OM meliputi ketiga lapisan dunia.
OM melambangkan segala dunia fenomenal.
Dari OM alam semesta indra-indra ini diproyeksikan.
Dunia ini ada dan lenyap dalam OM.
A mewakili alam fisik
U mewakili alam mental dan astral, alamnya para siddha (jiwa cerdas), semua sorga.
M mewakili seluruh alam dalam keadaan lelap bahkan dalam keadaan bangunpun, semua yang tak dapat dikenali yang berada diluar pencapaian kecerdasan.
OM mewakili segala-galnya.
OM adalah dasar kehidupan, pemikiran dan kecerdasan.
OM adalah segala-galanya.
Semua kata yang menyatakan obyek terpusatkan pada OM.

Oleh karena seluruh dunia ini berasal dari OM, bersandarkan dalam OM dan hancur dalam OM.
Duduklah dalam meditasi, ucapkan OM dengan keras tiga, enam atau dua belas kali. Seluruh pikiran duniawi akan lenyap dari pikiranmu dan menghilangkan viksepa (pikiran yang terombang-ambing). Kemudian ucapkan OM dalam hati. Japa OM (pranawa japa) mempunyai pengaruh yang luar biasa dalam pikiran. Pengucapan aksara suci OM merupakan salah satu yang menjadi pusat perhatian semua orang Eropa untuk mempelajari pengetahuan ketimuran.

Vibrasi yang dihasilkan dalam kata ini sangat dahsyat. Nampaknya sulit dipercaya kecuali harus dicoba untuk melatihnya. Bila seorang telah mencobanya maka ia dengan mudah dapat memahaminya bahwa pernyataan di atas adalah benar sama sekali. Aku telah mencoba kekuatan vibrasi yang dihasilkan dan sangat dapat dipercaya efek yang ditimbulkannya.

Diucapkan dalam cara yang benar atau diucapkan dengan cara dieja mempunyai pengaruh yang pasti pada murid, membangunkan dan mengubah setiap atom dalam fisiknya, menghasilkan vibrasi dan kondisi yang baru serta membangunkan kekuatan diri yang terpendam.

Selamat mencoba

Sebentuk cuplikan tentang Kepasrahan

Karena sifat ego yang dimiliki manusia, akan membuat mereka terus berjuang melawan permasalahan dan ketika perjuangannya menemui kekalahan, disitulah kepasrahan muncul. Dan kepasrahan itu pula yang akan membawa pikiran untuk kembali pada keyakinannya kepada KU.

Kepasrahan itu adalah suatu bentuk keyakinan dalam pikiran manusia untuk menyerahkan permasalahannya kepada kekuasaan bawah sadar. Dan seperti yang telah KU katakan, bawah sadar menyimpan segala penyelesaian masalah. Tak ada masalah yang tidak dapat dipecahkan.

Bilamana kepasrahan tersebut tidak disertai keyakinan, karena dimunculkan sebelum usaha yang dilakukan mencapai batas kemampuan, maka kepasrahan itu akan sia-sia. Sebab samudra pengetahuan bawah sadar hanya menerima kepasrahan yang disertai keyakinan. Bilamana masih ada keraguan, maka bawah sadar akan merespon bahwa pikiran sadar ternyata masih mampu memecahkan masalah yang dihadapi.

Tidak usah dimunculkan, sebab kepasrahan akan muncul dengan sendirinya bilamana kemampuan sadar yang dikendalikan oleh ego telah kehilangan kemampuan untuk berbuat. Jadi kesimpulannya, engkau harus terus berbuat namun tetap menyerahkan semua hasilnya pada KU. AKU selalu ada untukmu, sadar atau tidak sadar, maka Bekerjalah.

Penulis : Mara

Belajarlah Menjadi Orang Bodoh

Bagaimana cara terbaik dalam belajar agar wawasan berfikir menjadi luas?
(demikian sebuah pertanyaan)

Belajarlah menjadi orang bodoh.

Bukankah belajar itu untuk menjadi pintar?

Tujuan belajar memang untuk menjadi pintar, tetapi untuk menjadi pintar hendaklah belajar menjadi bodoh terlebih dahulu. Agar bisa menjadi pintar, orang harus menyerap berbagai ilmu dan teori tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan ini, baik kehidupan material maupun kehidupan spiritual. Untuk dapat memperoleh semua ilmu pengetahuan itu, tentulah seseorang harus menempatkan diri pada posisi bodoh, sebab bukankah hanya mereka yang bodoh akan iklas dalam belajar?

Hanya dengan kerendahan hati dan memandang diri sebagai orang yang masih terlampau jauh dari kesempurnaan pengetahuan, maka segala ilmu tentang kehidupan akan mendatangimu. Jika ego negatif yang terlebih dulu berkuasa, maka kamu akan merasa lebih superior dan merasa memiliki kepintaran melampaui orang lain, sehingga enggan menerima pengetahuan dari orang lain. Padahal, pada diri setiap orang selalu ada kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lainnya. Nah, mereka yang bijaksana sebaliknya akan senantiasa iklas menyerap kelebihan orang lain, sehingga segala kekurangan yang ada dalam dirinya akan tertutupi oleh kelebihan yang dia dapat dari orang tersebut. Pengetahuannya kian bertambah dan mencapai suatu pencerahan akan pengetahuan yang maha sempurna.

Mereka yang belajar menjadi bodoh ibarat seseorang yang mencari madu dengan wadah yang kosong. Dia akan mendapatkan lebih banyak madu untuk dinikmati. Sedangkan dia yang terlebih dulu belajar menjadi pintar, ibarat orang yang datang membawa wadah yang sudah terisi oleh air, sehingga hanya sedikit madu yang bisa ditampungnya.

Untuk belajar menjadi bodoh, terlebih dahulu setiap orang harus belajar mengendalikan ego negatifnya. Jika ego tidak mampu dikuasai, maka sulit untuk belajar rendah hati dihadapan orang lain. Sulitnya memunculkan sifat rendah hati ini akan menyulitkan orang untuk menjadi bodoh, apalagi untuk menjadi pintar.

Bagaimana cara mengalahkan ego?

Ego adalah bagian alamiah dalam diri setiap orang, dia tidak perlu dikalahkan. Ego hanya perlu dikendalikan dan diarahkan sehingga menjadi bermanfaat.

Sepenggal Dialog Spiritual II
Oleh Mustika W.