Tuesday, March 31, 2009

Istilah Hindu dan Sejarah Hindu di India

Bagian 1
Istilah ‘Hindu’ diberikan oleh orang-orang asing yang datang ke India, seperti: Arab, Persia, Yunani. Yang dimaksud Hindu oleh mereka, adalah orang-orang yang mendiami daerah lembah sungai Sindhu, termasuk agama dan kebudayaan yang dianut. Istilah ‘Hindu’ untuk pertama kali secara resmi dipakai oleh raja-raja yang memerintah di Kerajaan Wijayanagar pada ke-15 M.

Orang-orang Hindu menyebut agamanya Waidika Dharma atau Agama Weda, karena berumber pada Weda. Agama Weda didasarkan pada sastra-sastra yang sangat banyak jumlah dan jenisnya; keseluruhan sastra-sastra itu disebut Weda (Pengetahuan Suci).

Weda diajarkan selasa lisan selama berabad-abad, disimpan secara rahasia dalam tradisi perguruan, dikomentari dan diinterpretasikan ajarannya oleh para Rsi-Rsi yang mempunyai otoritas melakukan penafsiran-penafsiran.
Berikut ini Sejarah Agama Hindu di India :
  1. Peradaban Lembah Sungai Sindhu (2.500 – 1.500 SM)
  2. Zaman Weda (1.500 – 800 SM)
  3. Zaman Brahmana (800 SM – 200 M)
  4. Zaman Purana (200 – 700 M)
  5. Zaman Pembaharuan (700 – 1.200 M)
  6. Zaman Gerakan Bhakti (1.200 – 1.800 M)
  7. Gerakan Hindu Modern (1.800 – Sekarang)
Berikut diuraikan sejarahnya :
PERADABAN LEMBAH SUNGAI SINDU(2.500 – 1.500 SM)
  • Ditemukan peninggalan purbakala di daerah lembah Sungai Sindhu di distrik Sind di daerah Mahenjodaro dan di distrik Punjab Barat di daerah Montgomery pada tahun 1921.
  • Ciri-ciri yang menonjol adalah adanya pemujaan kepada Mother Goddess (Dewi Ibu). Mereka percaya bahwa Mother Goddes atau kekuatan perempuan (Shakti) merupakan sumber dari semua ciptaan.
  • Mereka juga memuja Male God, dalam wujud Siwa sebagai Mahayogi dan Siwa Pasupati atau dewa penguasa binatang buas. Hal ini sesuai dengan atribut yang dikenakan seperti Trinetra (bermata tiga) dan Trisula.
  • Mereka juga memuja Siwa-Lingga. Wujud Lingga ini sampai sekarang dipuja.
  • Mereka percaya bahwa batu dan pohon didiami oleh roh halus baik yang jahat maupun baik (animisme)
  • Binatang seperti: lembu, harimau, Garuda juga dipuja.


ZAMAN WEDA (1.500 – 1.000 SM)

  • Peradaban Lembah Sungai Sindhu kemudian dilanjutkan oleh suku Bangsa Arya, yang memasuki India dari Barat-Laut, menetap di Lembah Sungai Sindhu dan Saraswati.
  • Sastra-Sastra yang tertua dari bangsa Arya, yaitu kitab suci Weda, tidak diketahui tarikh tahunnya.
  • Kata weda berasal dari urat kata wid, yang artinya ‘pengetahuan’ atau ‘mengetahui’.
  • Weda terdiri dari kitab Sruti dan Smrti.
  • Weda Sruti: Catur Weda, yaitu Rig Weda, Sama Weda, Yajur Weda,dan Atharwa Weda.
  • Weda Smrti, seperti: Ayur Weda, Dharma Weda, Dhanur Weda, dll
  • Zaman Weda umumnya dibagi menjadi 2 (dua) periode), yaitu:
    1. Zaman Weda Kuno
    2. Zaman Weda Baru
    3. Zaman Akhir Weda

ZAMAN WEDA KUNO (RIG WEDA)

  • Pada zaman ini orang-orang Arya memuja kekuatan dan manifestasi dari alam, misalnya: pemujaan Surya (langit), Indra (halilintar), Parjanya (awan), Wayu (angin), Marut (angin ribut), Agni (api) dll.
  • Konsep Ketuhanan mereka adalah henotheisme atau kathenotheisme. Meraka kemudian memanusiakan dan mewujudkannya sebagai Dewa. Jumlah dewa yang dipuja pada zaman ini sebanyak 33 dewa.
  • Waruna merupakan dewa yang paling mulia, pemimpin para dewa, maha tahu, penguasa alam semesta.
  • Indra adalah dewa yang paling banyak dipuja, hampir 25% nyanyian pujian pada Rig Weda dtujukan kepada Indra.
  • Agama Rig Weda tidak mengajarkan umat menyembah, membuat patung, membuat kuil tempat pemujaan. Mereka sembahyang di tempat terbuka.


ZAMAN WEDA BARU

  • Pada zaman ini dijumpai kitab: Sama Weda, Yajur Weda, dan Atharwa Weda, termasuk Wedanta, yang semuanya wahyu dari Tuhan, yang dikodifikasi oleh Bhagawan Abhyasa.
  • Pada zaman Sama Weda: mantra-mantra sloka dari Rig Weda mulai dinyanyikan pada upacara yajna. Nyanyian suci dikodifikasikan dalam bentuk kitab Sama Weda.
  • Pada zaman Yajur Weda, disusun cara-cara melakukan upacara yajna (kurban suci). Kedudukan Yajna pada zaman ini sangat penting. Yajna dipandang sebagai satu-satunya jalan untuk mencapai moksa.
  • Selama upacara yajna berlangsung ketiga kitab suci (Trayi Weda), yakni: Riga, Sama, dan Yajur Weda harus dibawa dan dinyanyikan mantranya oleh Brahmana. Demikian juga pelaksanaan upcara harus sesuai dengan Yajur Weda.
  • Pada zaman Atharwa Weda, bangsa Arya menemukan mantra-mantra gaib untuk melawan ilmu sihir, penyakit, serta tata cara pemakaman jenazah.

ZAMAN BRAHMANA(800 – 300 SM)

  • Pada zaman ini pengkodifikasian kitab-kitab suci Weda sudah selesai. Para Rsi sudah tidak lagi mendapat wahyu lagu. Orang orang Arya sudah mulai menyebar ke arah Timur.
  • Pada zaman ini pula, Catur Weda mulai ditafsirkan oleh para Rsi. Tafsiran kitab-kitab Weda ini disebut kitab-kitab Brahmana.
  • Pembagian warna dalam arti kasta sudah mulai berkembang, tanah-tanah dikuasai oleh golongan bangsawan.
  • Upacara agama yang besar, megah, dan mahal berkembang, dilakukan oleh golongan aristokrat, akibatnya golongan Brahmana pun menjadi penting.
  • Zaman Brahmana, dibagi dalam 3 (tiga) zaman, yaitu:
    1. Zaman Kejayaan Hindu
    2. Zaman Kemunduran Hindu
    3. Zaman Kebangkitan Hindu.

ZAMAN KEJAYAAN HINDU(800 – 600 SM)

  • Spirit keagamaan mengalami perubahan, tidak ada lagi upacara2 kecil, melainkan upacara yajna besar dan rumit, sehingga golongan Brahmana memiliki kekuasaan dan mendapat perlakuan istimewa.
  • Upacara meliputi: mulai dari manusia dalam kandungan sampai meninggal, bahkan sampai yajna yang berhubungan dengan roh yang telah meninggal.
  • Upacara yang terbesar adalah Aswamedhayajna, korban kuda, memakai ratusan Brahmana, serta mengorbankan binatang dalam jumlah banyak.
  • Pada zaman Aranyaka muncul ajaran bertapa atau meditasi dalam usaha menguak misteri semesta.
  • Pada zaman Upanisad muncul ajaran yang berdasarkan filsafat dan logika. Ajaran dituangkan dalam kitab-kitab Upanisad.
  • Ada beberapa konsepsi penting yang ditemukan para Rsi yang membaca kitab-kitab suci di hutan:
    –Alam semesta diciptakan dari yajna dan dipelihara dengan yajna
    –Konsep Brahman – Atman, Samsara (punarbhawa)
    –Karma, samsara (punarbhawa), dan moksa.

ZAMAN KEMUNDURAN HINDU(600 – 300 SM)

  • Muncul protes dan perlawanan yang menentang ajaran Brahmana, yang mengajarkan upacara yajna, berbagai ritual serta pembunuhan bermacam-macam binatang dalam jumlah yang tidak sedikit, dengan biaya mahal..
  • Gerakan perlawanan ini dipimpin oleh para penganut Buddha, Jaina, Carwaka, dll, yang menolak wewenang dan otoritas kaum Brahmana.
  • Mereka menentang ritual-ritual yang bersumber pada Weda. Sebaliknya mengajarkan, mengagungkan etika tapa-brata, dan penebusan dosa dg disiplin ketat untuk mencapai moksa (bebas dari kelahiran dan kematian).
  • Agama Buddha begitu cepat meluas, ke seluruh masyarakat yang beragama Brahmana. Yang masih taat agama Hindu kebanyakan kaum Brahmana.
  • Pada zaman ini Hindu pecah menjadi 2 (dua) yaitu:
    1. Golongan Heterodoks/rasionalis: penganut Buddha, Jaina, Carwaka dsb
    2. Golongan Orthodoks: penganut Brahmana

ZAMAN KEBANGKITAN HINDU(300 – 200 SM)

  • Pushyamitra seorang Brahmana yang memimpin perlawanan penganut agama Brahmana menyerang penganut Buddha dan golongan rasionalis. Ia menghidupkan kembali upacara Aswamedhayajna.
  • Dalam perlawanan menentang agama Buddha, agama Brahmana (Hindu) pecah menjadi 2 (dua) mazab besar, yaitu Saiwa dan Waisnawa.
  • Mazab Saiwa: Karma Kanda, ritual, kitab Brahmana, memuja Tri Murti.
  • Mazab Waisnawa (Wedantis): Jnana Kanda, menolak ritual, warna, dan kekuasaan Brahmana.
  • Kaum Brahmana melarang pembacaan kitab suci Weda untuk umum, karena takut salah tafsir terhadap kitab suci Weda. Larangan ini membuat para Wedantis membuat kitab suci baru yang disebut: Pancama Weda, seperti: Ramayana, Mahabharata, Bhagawad Gita.
  • Demikian juga kitab-kitab Upanisad disempurnakan; misalnya: Sad Darsana: Samkhya, Yoga, Nyaya, MImamsa, dan Wedanta.
  • Kitab Brahmana: Kalpa Sutra, Grihya Sutra, Dharma Sutra dsb

Daftar Pustaka :

  • Cudamani. 1993. Pengantar Agama Hindu. Jakarta: Hanuman Sakti.
  • Maswinara, I Wayan. 1999. Sistem Filsafat Hindu. Surabaya: Paramita.
  • Phalgunadi, I Gst Putu. 2006. Sekilas Sejarah Evolusi Agama Hindu. Editor: I B Putu Suamba. Denpasar: Widya Dharma.
  • Pudja, G. 1985. Satu Pengantar Dalam Ilmu Weda. Jakarta: Mayasari.
  • Sura, I Gede. 1993. Pengendalian Diri dan Etika Dalam Ajaran Agama Hindu. Jakarta: Hanuman Sakti.
  • Tim Penyusun. 1987. Sejarah Perkembangan Agama Hindu di Bali. Denpasar: Pemerintah Daerah Tingkat I Bali.
  • Tim Penyusun. 2005. Pedoman Sembahyang. Denpasar: Pemerintah Provinsi Bali.

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Post a Comment