Showing posts with label Hari Raya. Show all posts
Showing posts with label Hari Raya. Show all posts

Thursday, April 23, 2009

Arti dan Fungsi Sarana Upakara

Berikut ini adalah tulisan tentang rangkuman pada buku arti dan fungsi sarana upakara.

Salah satu bentuk pengamalan beragama Hindu adalah berbhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Disamping itu pelaksanaan agama juga di laksanakan dengan Karma dan Jnyana. Bhakti, Karma dan Jnyana Marga dapat dibedakan dalam pengertian saja, namun dalam pengamalannya ketiga hal itu luluh menjadi satu. Upacara dilangsungkan dengan penuh rasa bhakti, tulus dan ikhlas. Untuk itu umat bekerja mengorbankan tenaga, biaya, waktu dan itupun dilakukan dengan penuh keikhlasan.

Untuk melaksanakan upacara dalam kitab suci sudah ada sastra-sastranya yang dalam kitab agama disebut Yadnya Widhi yang artinya peraturan-peraturan beryadnya. Puncak dari Karma dan Jnyana adalah Bhakti atau penyeraha diri. Segala kerja yang kita lakukan pada akhirnya kita persembahkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dengan cara seperti itulah Karma dan Jnyana Marga akan mempunyai nilai yang tinggi.

Kegiatan upacara ini banyak menggunakan simbul-simbul atau sarana. Simbul - simbul itu semuanya penuh arti sesuai dengan fungsinya masing-masing. Berbhakti pada Tuhan dalam ajaran Hindu ada dua tahapan, yaitu pemahaman agama dan pertumbuhan rokhaninya belum begitu maju, dapat menggunakan cara Bhakti yang disebut ”Apara Bhakti”. Sedangkan bagi mereka yang telah maju dapat menempuh cara bhakti yang lebih tinggi yang disebut ”Para Bhakti”.

Apara Bhakti adalah bhakti yang masih banyak membutuhkan simbul-simbul dari benda-benda tertentu. Sarana-sarana tersebut merupakan visualisasi dari ajaran-ajaran agama yang tercantum dalam kitab suci. Menurut Bhagavadgita IX, 26 ada disebutkan : sarana pokok yang wajib dipakai dasar untuk membuat persembahan antara lain:
- Pattram = daun-daunan,
- Puspam = bunga-bungaan,
- Phalam = buah-buahan,
- Toyam = air suci atau tirtha.
Dalam kitab-kitab yang lainnya disebutkan pula Api yang berwujud “dipa dan dhÅ­pa” merupakan sarana pokok juga dalam setiap upacara Agama Hindu. Dari unsur-unsur tersebut dibentuklah upakara atau sarana upacara yang telah berwujud tertentu dengan fungsi tertentu pula. Meskipun unsur sarana yang dipergunakan dalam membuat upakara adalah sama, namun bentuk-bentuk upakaranya adalah berbeda-beda dalam fungsi yang berbeda-beda pula namun mempunyai satu tujuan sebagai sarana untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa.



Arti dan Fungsi Bunga

Arti bunga dalam Lontar Yadnya Prakerti disebutkan sebagai ”... sekare pinako katulusan pikayunan suci”. Artinya, bunga itu sebagai lambang ketulusikhlasan pikiran yang suci. Bunga sebagai unsur salah satu persembahyangan yang digunakan oleh Umat Hindu bukan dilakukan tanpa dasar kita suci.

Untuk fungsi bunga yang penting yaitu ada dua dalam upacara. Berfungsi sebagai simbul, Bunga diletakkan tersembul pada puncak cakupan kedua belah telapak tangan pada saat menyembah. Setelah selesai menyembah bunga tadi biasanya ditujukan di atas kepala atau disumpangkan di telinga. Dan fungsi lainnya yaitu bunga sebagai sarana persembahan, maka bunga itu dipakai untuk mengisi upakara atau sesajen yang akan dipersembahkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa ataupun roh suci leluhur.

Dari Bunga, buah dan daun di Bali dibuat suatu bentuk sarana persembahyangan seperti : canang, kewangen, bhasma dan bija. Canang, kewangen, bhasma dan bija ini adalah sarana persembahyangan yang berasal dari unsur bunga, daun, buah dan air. Semua sarana persembahyangan tersebut memiliki arti dan makna yang dalam dan merupakan perwujudan dari Tatwa Agama Hindu.

Adapun arti dari masing-masing sarana tersebut antara lain yaitu :


1. Canang

Canang ini merupakan upakara yang akan dipakai sarana persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Bhatara Bhatari leluhur. Unsur - unsur pokok daripada canang tersebut adalah:

a. Porosan terdiri dari : pinang, kapur dibungkus dengan sirih.
Dalam lontar Yadnya Prakerti disebutkan : pinang, kapur dan sirih adalah lambang pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Tri Murti.
b. Plawa yaitu daun-daunan yang merupakan lambang tumbuhnya pikiran yang hening dan suci, seperti yang disebutkan dalam lontar Yadnya Prakerti.
c. Bunga lambang keikhlasan
d. Jejahitan, reringgitan dan tetuasan adalah lambang ketetapan dan kelanggengan pikiran.
e. Urassari yaitu berbentuk garis silang yang menyerupai tampak dara yaitu bentuk sederhana dari pada hiasan Swastika, sehingga menjadi bentuk lingkaran Cakra setelah dihiasi.

2. Kewangen

Kewangen berasal dari bahasa Jawa Kuno, dari kata “Wangi” artinya harum. Kata wangi mendapat awalan “ka” dan akhiran “an” sehingga menjadi “kewangian”, lalu disandikan menjadi Kewangen, yang artinya keharuman. Dari arti kata kewangen ini sudah ada gambaran bagi kita tentang fungsi kewangen untuk mengharumkan nama Tuhan.

Arti dan makna unsur yang membentuk kewangen tersebut adalah Kewangen lambang ”Omkara”. Kewangen disamping sebagai sarana pokok dalam persembahyangan, juga dipergunakan dalam berbagai upacara Pancayadnya. Kewangen sebagai salah satu sarana penting untuk melengkapi banten pedagingan untuk mendasari suatu bangunan.

Demikian pula dalam upacara Pitra Yadnya, ketika dilangsungkan upacara memandikan mayat, kewangen diletakkan di setiap persendian orang meninggal yang jumlahnya sampai 22 buah kewangen, dimana fungsi kewangen disini adalah sebagai lambang Pancadatu (lambang unsur-unsur alam) sendang fungsi Kawangen dalam upacara memandikan mayat sebagai pengurip-urip.

3. Bunga sebagai Lambang, antara lain
a. Bunga lambang restu dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa
b. Bunga lambang jiwa dan alam pikiran.
c. Bunga yang baik untuk sarana keagamaan.



Arti dan Fungsi Api Dhupa dan Dipa

Dalam persembahyangan Api itu diwujudkan dengan : Dhupa dan Dipa. Dhupa adalah sejenis harum-haruman yang dibbakar sehingga berasap dan berbau harum. Dhupa dengan nyala apinya lambang Dewa Agni yang berfungsi :

1. Sebagai pendeta pemimpin upacara
2. Sebagai perantara yang menghubungkan antara pemuja dengan yang dipuja
3. Sebagai pembasmi segala kotoran dan pengusir roh jahat
4. Sebagai saksi upacara dalam kehidupan.

Kalau kita hubungkan antara sumber-sumber kitab suci tentang penggunaan api sebagai sarana persembahyangan dan sarana upacara keagamaan lainnya, memang benar, sudah searah meskipun dalam bentuk yang berbeda. Disinilah letak keluwesan ajaran Hindu yang tidak kaku itu, pada bentuk penampilannya tetapi yang diutamakan dalam agama Hindu adalah masalah isi dalam bentuk arah, azas harus tetap konsisten dengan isi kitab suci Weda. Karena itu merubah bentuk penampilan agama sesuai dengan pertumbuhan zaman tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Ia harus mematuhi ketentuan-ketentuan sastra dresta dan loka drsta atau : desa, kala, patra dan guna.



Arti dan Fungsi Tirtha

Air merupakan sarana persembahyangan yang penting. Ada dua jenis air yang dipakai dalam persembahyangan yaitu : Air untuk membersihkan mulut dan tangan, kedua air suci yang disebut Tirtha. Tirtha inipun ada dua macamnya yaitu: tirtha yang di dapat dengan memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan Bhatara-bhatari dan Tirtha dibuat oleh pendeta dengan puja.
Tirtha berfungsi untuk membersihkan diri dari kekotoran maupun kecemaran pikiran. Adapun pemakaiannya adalah dipercikkan di kepala, diminum dan diusapkan pada muka, simbolis pembersihan bayu, sabda, dan idep. Selain sarana itu, biasanya dilengkapi juga dengan bija, dan bhasma yang disebut gandhaksta.

Tirtha bukanlah air biasa, tirtha adalah benda materi yang sakral dan mampu menumbuhkan persanaan, pikiran yang suci. Untuk asal usul kata Tirtha sesungguhnya berasal dari bahasa Sansekertha.

Macam - macam Tirtha untuk melakukan persembahyangan ada dua jenis yaitu tirtha pembersihan dan tirtha wangsuhpada. Arti dan makna tirtha ditinjau dari segi penggunaannya dapat dibedakan sebagai berikut :

a. Tirtha berfungsi sebagai lambang penyucian dan pembersihan
b. Tirtha berfungsi sebagai pengurip / penciptaan.
c. Tirtha berfungsi sebagai pemeliharaan

Dalam Rg Weda I, bagian kedua sukta 5, mantra 2 dan 5 dijelaskan Dewa Indra sebagai pemberi air soma yang merupakan air suci. Mantra adalah Weda, sehingga kitab Catur Weda disebut kitab Mantra, karena tersusun dalam bentuk syair-syair pujaan. Mantra itu banyak macam dan ragamnya, ada mantra yang hanya terdiri dari dua, tida atau lima suku kata seperti: Om Ang Ah, Ang Ung Mang, Sang Bang Tang Ang Ing dan sebagainya. Mantra juga disebut ”Bija Mantra”. Suku kata yang demikian itu dianggap mengandung sakti, disebut ”Wijaksara”.

Mantra yang digunakan sebagai pengantar upacara disebut : Brahma. Nama ini kemudian digunakan untuk menyebutkan, Ia yang maha kuasa. Mantra yang ditujukan kepada Tuhan dalam salah satu manifestasinya disebut ”Stawa” misalnya ”Siwastawa, Barunastawa, Wisnustawa, Durghastawa, dan sebagainya.

Mantra pada umumnya memakai lagu dan irama, sehingga mantra juga disebut ”Stotra”. Dalam sekian banyak mantra, contoh dua buah mantra yaitu mantra ”Puja Trisandhya” dan mantra ”Apsudewastawa” dapat diambil kesimpulan bahwa mantra adalah sebagai sarana persembahyangan yang berwujud bukan benda (non material) yang harus diucapkan dengan penuh keyakinan. Tanpa keyakinan semua sarana persembahyangan itu akan sia-sia, untuk dapat menghubungkan diri dengan yang dipuja.

Sunday, April 12, 2009

Mengurai Nyepi dan Saka

Dikutip dari : Tabloid Pasupati
Oleh : Ida Pandita Mpu
Dharma Mukti Sidha Kerti .

Hari Raya Nyepi menjadi salah satu hari raya besar, memiliki sekelumit kisah yang berasal dari tanah India pada abad sebelum masehi, Perayaan ini juga menjadi sebuah sejarah, dimana berhentinya pertikaian yang terjadi antar suku yang ada di India.

Hari Raya Nyepi jatuh pada Tilem Kesanga di bulan Maret, merupakan salah satu hari raya besar bagi umat Hindu Bali. Hari yang menurut sejarah pelaksanaannya dimulai sejak tahun 78 masehi, memiliki sekelumit kisah yang bisa menjadi sebuah refleksi bagi umat Hindu yang ada di Indonesia.
Mengingat pada tahun 248 masehi, pertikaian antar – suku di India sangat memprihatinkan , dalam jaman itu pertikaian selalu mewarnai suku-suku di India , beberapa suku yang ada , seperti : Pahlawa, Saka, Yuehchi, Yawana dan Makawa, selalu bertikai dengan tujuan mencari Kekuasaan.

Suku – suku tersebutpun silih berganti mengalami kemenangan, mulai ketika suku Pahlawa mengalahkan suku Yawana dan suku Saka , lalu suku Saka berhasil mengalahkan suku lainnya sehingga kembali harus berhadapan dengan suku yang sebelumnya pernah menaklukannya. Kemudian suku Saka sempat mengalami masa kejayaan pada tahun sebelum masehi , menyadari pertikaian yang masih berlangsung, suku bangsa Saka yang terdiri dari "Saka Tigrakhauda, Saka Haumawarga dan Saka Taradaraya”, mengubah garis perjuangan mereka yang sebelumnya dibawah garis Politik dan Militer.

Kali ini diganti garis perjuangan Kebudayaan, hal tersebut mengakibatkan kebudayaan suku bangsa Saka melekat di dalam kehidupan se hari-hari rakyat, pada saat kekuasaan suku Saka, penanggalan yang digunakan oleh Negara adalah menggunakan penanggalan berdasarkan letak posisi matahari yang dikenal dengan penanggalan “Saka”.

Sekitar tahun 125 sebelum masehi, suku bangsa Yueh-chi yang memegang tapuk kekuasaan, melihat suku bangsa Saka yang mengubah arah perjuangannya, suku bangsa Yueh-chi yang saat itu dipimpin dinasti Kusana merasa terketuk hatinya , pasalnya ketika suku bangsa Saka memegang kekuasaan, tidak ada tindakan penindasan yang dilakukan kepada suku bangsa yang tunduk dibawah kekuasaannya.

Berbagi seni dan budaya yang dihidupkan akhirnya dijadikan”Kebudayaan Negara”, hingga pada tahun 78 masehi, seorang dari dinasti Kusana bernama “Kaniska” dilantik menjadi seorang raja. Dengan bijaksana diresmikanlah kalender tahun Saka sebagai system pengalenderan yang berlaku pada zaman tersebut, saat peresmian, ada beberapa bulan yang ditetapkan pada saat itu , di antaranya Chitirai atau disebut dengan Mesha dan istilah lainnya Waisaka.

Dalam istilah Bali dinamakan sasih Kadasa , serta masih banyak lagi nama bulan yang ditetapkan dalam penanggalan saka saat itu , tepatnya pada 21 Maret 79 masehi hal tersebut dilakukan untuk mengenang kejayaan suku bangsa Saka dan merupakan hari penobatan menjadi seorang raja. Pada saat kepemimpinan Raja Kaniska, banyak sekali kemajuan yang terjadi, kesetabilan politik dan toleransi umat Hindu dan Bhuda selalu berjalan sinergis, berbagai kesenian dan kebudayaan dari beberapa suku bangsa yang ada menjadi berkembang dan tetap lestari.

Selain itu penghargaan tertinggi untuk para umat agama yang ada pada saat itu, dibuktikan dengan seringnya melakukan pertemuan besar antar – umat beragama yang pada saat itu adalah Hindu dan Budha, pesamuan agung atau yang disebut sidang raya tersebut, dilakukan oleh Kaniska untuk menjaga kerukunan umat beragama, agar selalu bisa beriringan dalam membangun pemerintahan.

Hubungan diplomasi keluar, seperti dengan Yunani, China dan India bagian selatan berlangsung kian baik , beberapa pengaruh dari kekuasaan raja Kaniska juga dapat dilihat dari banyak hal , salah satunya dari system penanggalan yang digunakan oleh beberapa kawasan India bagian timur dan India bagian Utara.

Ketika pengaruh tahun saka belum masuk, bangsa – bangsa tersebut masih menganut penanggalan Chandra, yakni berpatokan pada letak posisi bulan, hingga akhirnya pengaruh penanggalan sampai ke Bali dan dipadukan penggunaannya dengan penanggalan Chandra yang digunakan sampai saat ini hanya saja, karena perbedaan letak geografis dan tempat yang menjadikan perbedaan letak posisi matahari, akhirnya membedakan ketepatan jatuhnya perayaan Tahun Baru Saka di Indonesia dengan perayaan Tahun Baru Saka India.

Pada saat Tahun Baru Saka yang jatuh setelah Tilem sasih kesanga, beberapa lontar menyebutkan adanya ritual yang harus dilakukan oleh umat Hindu di Bali, seperti halnya yang terdapat di lontar Sri Aji Kasanu, dimana disebutkan ada salah satu ritual yang ditafsir dengan istilah Nyepi, adapun beberapa bait lontar menyebutkan ; "ring tileming sasih kesanga patut mapraketi caru tawur wastanya, sadulur Nyepi awengi".
Kalimat tersebut bermakna , bahwa pada tilem sasih kesanga, patut melakukan upacara Bhuta Yadnya yaitu caru yang disebut dengan “Tawur”, yang dilanjutkan dengan Nyepi sehari , sehingga setelah melakukan upacara tawur pada tilem sasih kesanga , umat Hindu di Bali pada umumnya melakukan yang disebut dengan Nyepi untuk menyambut datangnya sasih Kadasa yang merupakan awal dari Tahun Baru Saka.

Caru

Oleh : Dra.Made Sri Arwati
Dalam Upada Sastra


Pengertian Caru :
Caru, adalah nama jenis upakara, banten atau sesajen yang dipergunakan dalam upacara bhuta yadnya , caru ini mempunyai tingkatan lebih tinggi dari yadnya sesa atau segehan . Kata Caru berarti Enak, Manis, Sangat menarik, bila dihayati secara mendalam dari pengertian kata Enak, Manis, Sangat menarik itu, terkandung kata harmonis, serasi atau seimbang yang dalam bahasa Bali disebut “pangus atau adung”sehingga kemudian dapat disimpulkan bahwa caru atau bhuta yadnya itu adalah yadnya dari manusia untuk mewujudkan keharmonisan di alam semesta, yaitu antara bhuwana alit dengan bhuana agung.

Bhuta Yadnya adalah salah satu bagian dari Panca Yadnya, Bhuta adalah kata sansekerta yang berasal dari kata “Bhu” artinya menjadi, ada, makhluk atau wujud. Kata bhuta merupakan bentuk pasif participle dari kata “bhu” yang berarti telah diwujudkan, demikian selanjutnya dari kata “bhu” lalu menjadi “bhuwana” atau “bhumi” yang berarti alam atau jagat maka dari pengertian ini bhuta berarti unsur-unsur yang menjadikan alam semesta ini, yang terdiri dari unsur-unsur panca maha bhuta; pratiwi, apah, teja, wahyu dan akasa, semula unsur-unsur ini menurut ajaran filsafat Hindu Samkhya , berasal dari Prakerti yang merupakan sebab atau sumber utama semua obyek pisik termasuk pikiran , benda-benda dan kehidupan.

Kata bhuta juga berarti gelap atau kegelapan, yaitu gelap hati karena tidak melihat akibat salah satu unsure panca indra dalam tubuh tidak berpungsi. Secara filosofis, bhuta adalah sesuatu kekuatan negatif yang timbul dari adanya ketidak harmonisan antara unsur-unsur panca maha bhuta, ketidak harmonisan ini menimbulkan kekeruhan suasana, baik itu terjadi di bhuwana agung (alam semesta) maupun di bhuwana alit (tubuh manusia), apabila unsure-unsur panca maha bhuta itu harmonis akan menimbulkan kekuatan positif. Sebaliknya apabila tidak harmonis menimbulkan kekuatan negative yang mengganggu ketentraman hidup manusia, dan oleh manusia dipersonifikasikan sebagai makhluk halus yang mengerikan, untuk menetralisir perlu keharmonisan itu dijaga dengan mengadakan kurban suci berupa bhuta yadnya .

Secara paedagogis (pendidikan), bhuta yadnya bermakna mendidik para umat Hindu untuk tetap cinta terhadap alam, baik itu bhuwana agung maupun bhuwana alit, karena pada hakikatnya semua itu merupakan ciptaan Hyang Widhi Wasa, melalui bhuta yadnya memberikan tuntunan agar umat Hindu senantiasa berorientasi kepada alam, agar dapat mengambil sesuatu manfaatnya, karena alam merupakan sumber kehidupan manusia , yaitu manusia hidup di alam dan dari alam

Alam merupakan subyek dan obyek bagi kelangsungan hidup manusia, maka alam patut dijaga dan dipelihara keharmonisannya secara lahir dan batin dengan beryadnya melalui suatu upacara, yang bermakna sebagai perwujudan dan pencetusan rasa terima kasihnya manusia sebagai makhluk ciptaan Hyang Widhi Wasa, yang berkewajiban untuk mengatur dan memelihara kelestarian ala mini agar tetap lestari sepanjang masa.

Kehidupan dan manusia tak dapat dipisahkan antara yang satu dan yang lainnya, karena merupakan saling ketergantungan. Seperti dinyatakan dalam Pustaka Suci Bhagawadgita III tentang pentingnya yadnya pada sloka 10 (sepuluh) yang artinya sebagai berikut ; Pada zaman dahulu kala Prajapati menciptakan manusia dengan yadnya dan bersabda “ Dengan ini engkau akan mengembang dan akan menjadi kamadhuk dari keinginanmu “

Menghayati dan menyimak arti sloka tersebut diatas, maka manusia sebagai makhluk ciptaan Hyang Widhi Wasa yang paling tinggi tingkatannya dan utama keberadaannya, sudah sepatutnya melatih diri dalam hidup bersama dan saling ketergantungan di bhuwana agung ini untuk bersama sama berusaha mewujudkan keharmonisan atau saling bantu membantu antara yang meminta dengan yang memberi, dan oleh manusia dipersembahkan dengan banten caru yang juga lazim disebut dengan kata tawur artinya bayar kembali.

Sarana tawur adalah terdiri atas apa yang disukai atau di cintai, agar dapat terwujud secara harmonis atau seimbang, sesuai dengan tuntunan pustaka suci Bhagawad Gita III sloka 11 (sebelas) artinya sebagai berikut; “Dengan ini kamu memelihara para dewa dan dengan ini pula para dewa memelihara dirimu, jadi dengan saling memelihara satu sama lain, kamu akan mencapai kebaikan yang maha tinggi ".

Bila disimak secara mendalam uraian – uraian tersebut diatas, maka dapat disimpulkan mengenai pengertian dari caru atau tawur itu sebagai berikut :
  1. Berpangkal dari penciptaan dunia dengan segala isinya yang ada di muka bumi ini oleh Hyang Whidi Wasa dengan yadnya, kemudian dinikmati oleh manusia untuk sarana kehidupannya , maka manusia patut merasa berhutang budi kehadapan Hyang Whidi Wasa, dan hal itu patut dibayar pula melalui yadnya.
  2. Yadnya merupakan tuntunan kepada manusia untuk mengendalikan hawa nafsu melalui ikhlas berkorban dalam menciptakan terjadinya keseimbangan di antara dua kekuatan (rwabhineda) antara positif dan negativ melalui caru atau tawur.
  3. Kedua kekuatan itu akan menguji kemampuan manusia dalam kehidupannya , maka sebagai manusia atau makhluk yang paling utama dan sempurna keadaannya serta berperan sebagai subyek dan obyek di bumi ini, patut selalu memelihara dan menjaga keharmonisan alam itu secara lahir dan batin.

Mitologi Caru

Seperti telah diungkap oleh beberapa pustaka suci yang merupakan warisan budaya leluhur dalam beberapa rontal antara lain “ Purwa Bumi Kamulan “, menceritakan tentang penciptaan alam semesta oleh Hyang widhi Wasa itu , berpangkal dari dua hal yang pokok , yaitu benda dan energi (kekuatan) dilukiskan dalam bentuk Bhatari Uma (Durgha) dalam lambang Pradana dan Panca Korsika, yaitu lima bersaudara yang terdiri atas Korsika, Garga, Metri, Kurusya dan Pretenjala sebagai lambang Purusha yang merupakan sumber dari kehidupan dan energi itu.

Diantara keenam ciptaan Hyang Widhi Wasa itu, Bhatari Uma dan Pretenjala (Siwa) yang merupakan sumber penciptaan isi alam semesta ini , ciptaan-ciptaannya itu ada yang baik dan ada yang buruk disebut rwabhineda , yaitu dua yang berbeda , yang baik bersifat ke alam dewataan (dewa-dewa) dan yang buruk bersifat bhuta kala .

Setelah yang baik-baik diciptakan , maka kemudian Bhatari Uma berubah rupa menjadi Bhatari Durgha dan Bhatara Siwa juga berubah rupa menjadi Bhatara Kala, lalu bersama-sama menciptakan segala jenis bhuta kala dengan segala penyakit serta godaan-godaan yang ditimbulkan, sehingga di alam semesta ini terjadilah ketidak harmonisan, yang paling dahulu mengganggu ketentraman hidup manusia sebagai ciptaan Hyang Widhi Wasa yang paling sempurna dan utama itu, agar berusaha mengatasi godaan bhuta kala itu dengan menyelamatkan semuanya, karena manusia tak akan mampu untuk hidup sendiri.

Mengenai kekuatan-kekuatan bhuta kala ini , kalau dikonkritkan dapat dilihat dalam kehidupan yang nyata berupa gempa bumi, banjir, angin topan, halilintar dan lain sejenisnya, yang kalau diselusuri dengan baik semua itu terjadi akibat dari keserakahan dan kelalaian ulah perbuatan manusia itu sendiri, yang ingin mengambil dan menikmati seluruh isi alam ini dengan seenaknya saja, tanpa memperhitungkan dan mempertimbangkan untuk penjagaan dan pemeliharaan keseimbangan atau keharmonisan itu.

Selain dari sumber rontal tersebut diatas, juga ada yang menguraikan tentang penciptaan alam semesta beserta isinya oleh dua kekuatan seperti terurai di depan yang termuat pada pustaka rontal “Purwa Bumi Tua” dan “Purwa Bhumi”, yang pada dasarnya tidak berbeda dari filsafat (tattwa) Samkhya dan Wedanta, hanya saja di dalam rontal-rontal tentang penggambaran dari kekuatan-kekuatan itu dilukiskan dalam wujud sebagai manusia atau makhluk, yang dipakai oleh penterjemah atau pengawi agar lebih mudah dapat dipahami oleh manusia untuk mempedomi , menghayati dan mengamalkannya.

Diawali dari terjadinya kekacauan alam semesta di bumi ini yang mengganggu ketentraman hidup yang lainnya akibat dari godaan-godaan bhuta kala itu, Hyang Widhi Wasa juga telah menurunkan Hyang Tri Murti, yaitu Korsika sebagai Dewa Iswara, Gargha sebagai Dewa Brahma dan Kurusya sebagai Dewa Wisnu untuk membantu manusia agar bisa selamat dari godaan-godaan para bhuta kala itu, Bhatara Iswara menuntun dan mengajarkan manusia membuat sesajen-sesajen untuk “penyucian”(menetralisir) pengaruh-pengaruh bhuta kala, sehingga mulailah timbul banten “Caru”.

Hyang Tri Murti beliau berubah rupa menjadi Pendeta yang mengajarkan dan mengantarkan permohonan manusia untuk melaksanakan upacara-upacara keagamaan menuju pada keharmonisan antara lahir dan batin, dalam pengamalannya beliau bersama-sama dengan manusia menyucikan alam semesta ini dari gangguan Bhatari Durgha dan Bhatara Kala serta para bhuta kala yang lainnya , melalui penyelenggaraan upacara bhuta yadnya.

Bhatara Kala dalam rontal “Purwaka Bhumi” dilukiskan sebagai Yamaraja merupakan lukisan dari kekuatan Bhatara Siwa sendiri sebagai sumber kekuatan alam semesta dengan rupa sangat menakutkan, dengan demikian Bhatara Siwa sama dengan Bhatara Kala dan sama dengan Yamadiraja didalam banten caru, Bhatari Durgha dilambangkan dengan “babangkit” dan gaya utuhnya, oleh sebab itu maka banten caru itu ditujukan kepada Bhatara Kala dan Bhatari Durgha sebagai simbolis dari kekuatan alam semesta ini.

Upacara merupakan suatu rangkaian kegiatan manusia untuk berhubungan atau mendekatkan dirinya dengan Hyang Widhi Wasa, karena Hyang Widhi Wasa diyakini adalah merupakan asal dan tujuan akhir dari pada kehidupan manusia, upacara adalah bentuk riil dari pelaksanaan-pelaksanaan agama yang berupa aktivitas-aktivitas, dan semua agama di dunia ini mempunyai upacara-upacara, karena upacara sebagai bukti bahwa agama yang dianutnya itu adalah hidup dan dianut oleh umatnya sebagai perwujudan rasa bakti dari karunia atau suweca-Nya Hyang Widhi Wasa terhadap umat pendukungnya.

Asal Caru

Banten Caru atau Tawur dalam upacara bhuta yadnya ditujukan ke hadapan Bhatari Durgha dan Bhatara Kala (Siwa), dalam ajaran agama Hindu, Dewa Siwa dikenal sebagai pusat atau sumber kekuatan dewa-dewa, perpaduan antara Bhatari Durgha dengan Bhatara Kala dalam kehidupan ini, dapat diibaratkan sebagai alam semesta dengan kekuatan – kekuatan alam dalam bhuwana agung, atau tubuh dengan jiwa dalam makhluk hidup (manusia atau bhuwana alit), oleh sebab itu, maka hanya Bhatara Kala sajalah yang bisa mengatur kekuatan-kekuatan beliau sendiri agar saktinya (Bhatari Durgha) itu tidak membahayakan manusia .

Secara ilmiah, benda-benda di dunia ini tidak akan membahayakan atau menguntungkan bagi manusia sebelum benda itu mempunyai kekuatan, kekuatan-kekuatan inilah kemudian yang dilukiskan dalam wujud Bhatara Kala (Siwa) sehingga manusia menjadi tergoda pikirannya untuk berbuat lebih banyak meminta dan memakai dan sedikit memberikan kepada alam sekitarnya sehingga timbulah ketidak harmonisan itu.

Agar kekuatan suatu benda dapat harmonis , maka perlu diatur kekuatan yang berlebihan yang terdapat pada suatu benda hendaknya dikurangi dan pada kekuatan yang kurang patut ditambahi, melalui upacara yadnya (kurban suci) yang diwujudkan dengan banten caru (tawur), pada waktu Bhatari Durgha menciptakan bhuta kala bertempat di perempatan jalan (catus pata).

Dalam banten caru yang memegang peranan penting adalah simbol dan warna , sebab itu dalam segala jenis dan kurban caru diusahakan memenuhi lima warna sesuai dengan warna pengider-ideran bhuwana, putih =timur, barak /merah = selatan, kuning = barat, hitam / selem = utara dan brumbun = tengah, selain jenis warna, yang diutamakan juga dalam banten caru sangat tergantung pada jenis kurban yang dipakai, bila dihayati secara mendalam dalam meneliti banten caru itu, rupanya mengambil sumber dari Itihasa Mahabharata antara lain :

Ceritra Sudamala, dalam ceritra ini dilukiskan bahwa Sahadewa puteranya Dewi Kunti dipersembahkan ke hadapan Dewi Durgha untuk dijadikan kurban penyupatan (penyucian) Panca Korsika, begitupula dengan ceritra “gugurnya Duryadana ,, saat Duryadana berada dalam keadaan luka-luka hingga tak dapat berjalan, akibat pahanya yang patah dipukul oleh Bima , Bhagawan Krepa dan Aswatama sangat kasihan melihat Duryadana dalam keadaan seperti itu , dan baru akan bisa gugur jika sudah mendapatkan kurban berupa lima buah kepala dari Panca Kumara, yaitu lima orang anak dari Panca Pandawa .Itulah sebabnya kemudian Sang Aswatama berusaha mencarikan lima kepala Panca Kumara dengan membunuhnya saat sedang tidur dan kebetulan sedang ditinggalkan pergi oleh orang tuanya Sang Panca Pandawa.

Bila dihayati secara mendalam, rupanya ceritra gugurnya Duryadana ini merupakan asal dari Caru Pancasata, sebab itu dipakai lima orang putera-putera Panca Pandawa , bila disimak secara mendalam dari penghayatan itu, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa yang sepatutnya menjadi kurban itu adalah anaknya manusia, tetapi karena caru itu kemudian dikorbankan oleh manusia , rupanya kurban caru itu bisa diganti dengan binatang .

Jadi dalam sarana upakara / banten caru itu korbannya diganti dengan binatang , dan untuk membuktikan bahwa semestinya kurban caru itu adalah manusia, dengan dipergunakannya sarana "sengkwi wong-wongan", yaitu berupa anyam-anyaman dari daun kelapa sebagai gambaran dari kerangka manusia yang dipergunakan sebagai alas / dasar banten pada binatang kurban yang dipakai caru, binatang yang dijadikan kurban tidak boleh sembarangan, adalah binatang-binatang piaraan, yang sudah menjadi anggota keluarga dari manusia dalam hidupnya, sehingga sudah dihinggapi dengan rasa kasih sayangnya, kurban ini selain berdasarkan kasih sayang, juga sebagai tanda bukti kesungguhan hati manusia untuk berkorban atau beryadnya dan pada umumnya yang dipakai adalah yang masih tergolong muda (sedang disayangi oleh pemiliknya serta belum ternoda).

Lahirnya Betara Kala

Sumber Cerita diambil dari : "Lontar Tatwa Kala"
Pada Suatu hari ketika Betara Siwa sedang jalan-jalan dipinggir pantai, melihat Dewi Uma pakianya bagian bawah diembus angin yg kencang, Angin itu dibuat oleh Batara Baruna penguasa laut, Akibat dari angin yg kencang menyebabkan bagian sensitif kelihatan samar-samar mengundang birahi / nafsu Betara Siwa Tri Netra, lantas Batara Siwa mengeluarkan ilmu agar Dewi Uma mau melakukan patemon layak sensor, namun Dewi Uma menolak, karena prilaku yang demikian tidak sesuai dengan prilaku dewi –dewi di Kahyangan, akibat tidak dapat menahan nafsu akhirnya air mani ( kama ) meleleh menetes sampai kelaut.

Kemudian dijumpai oleh Batara Brahma & Wisnu lalu dibinanya dan dirawatnya terus dipuja dgn "JAPA MANTRA" Kemudian benih itu lahir menjadi Raksasa yg hebat dan terus menggeram – geram menanyakan siapa ayah dan siapa ibunya, kemudin oleh Batara Barahma & Wisnu diberitahu sil-silahnya, Ayahnya bernama Batara Siwa dan Ibunya Dewi Uma, dan tinggal di Siwa Loka, lalu Raksasa itu pergi ke Siwa Loka menghadap Batara Siwa dan Dewi Uma, dan meminta agar diakui sebagai putranya dan memohon Wara Nugraha, apa yang pantas dimakannya, sebelum diakui sebagai putranya dan dianugrahi Betara siwa meminta taring yg panjang itu dipotong terlebih dahulu, agar dapat melihat wajah ayah dan ibunya yg seutuhnya.

Petunjuk Batara Siwa diikuti oleh Raksasa itu, setelah taring dipotong barulah Raksasa itu dapat melihat wujud Batara Siwa dan Uma seutuhnya, sejak itulah Raksasa diberi gelar “Batara Kala” dan tidak ada kesaktian yg dapat mengalanginya dan Batara Kala diberi anugerah boleh memakan orang yg lahir di Tumpek Wayang, tujuannya anugerah itu untuk memperingati hari lahirnya Batara Kala sendiri.
Kebetulan Batara Rare Kumara adalah putra Batara Siwa hasil perkawinan dgn Dewi Uma yang sama-sama lahir di Tumpek Wayang, karena lahirnya disamai oleh adiknya sendiri, Batara Kala jadi sangat marah, sesuai dengan anugerah Batara Siwa kepadanya, Batara Kala memohon untuk memakan adiknya Batara Rare Kumara.

Tetapi Batara Siwa masih menangguhkan, karena adiknya masih kecil, kelak sudah besar baru boleh dimakan, hampir setiap hari Batara Kala memohon agar Batara Rare Kumara cepat besar untuk bisa dimakan, namun Batara Siwa pintar dipastu agar Batara Rare Kumara tetap menjadi anak-anak ( Rare ) agar tidak bisa dimakan oleh Batara Kala, tetapi tipu muslihat Batara Siwa diketahui oleh Batara Kala , kemudian Batara Kala emosi , dengan sikap yg arogansi Batara Rare Kumara dikejarnya mau dimakan, tatkala itu dilihat oleh Batara Siwa pada waktu Tumpek wayang, lantas Batara Siwa berkata: "Hai anakku jangankan adikmu orang tuamu boleh kau makan asalkan kau bisa menjawab pertanyaan orang tuamu", karena pertanyan terlalu banyak sehingga kehabisan waktu dan sudah sore, sehingga Batara Kala tidak bisa memakan adiknya, ayahnya serta ibunya karena waktu sudah lewat (sore).

Batara Kala tambah marah merasa dibohongi kemudian adiknya Rare Kumara dikejar mau dimakan, dalam pengejaran batara rare selalu dapat lolos, akhirnya Batara Rare Kumara bersembunyi dibawah gender wayang yang sedang ditabuh oleh juru gender untuk mengiringi Ki Dalang ngewayang, pada saat itu Batara Kala datang juga disana dalam keadaan tergesa-gesa serta disertai kehausan dan lapar, banten yang ada di tempat ngewayang dimakan oleh Batara Kala, dilihat oleh Ki Dalang, terjadilah dialog dgn dalang disuruh ganti rugi namun Batara Kala menolak, biar tidak terjadi openi berkepanjangan, yg mana bisa meruncing masalah maka Batara Kala memberi anugerah kepada Ki Dalang untuk melakukan, melaksanakan pengelukatan Wayang Sapu Leger bagi anak yg lahir di Tumpek Wayang.

Oleh karena itu jika Putra / Putri yg lahir di Tumpek Wayang wenang mebasuh /melukat dgn tirta Wayang Sapu leger jika tidak dibayuh atau ditebus anaknya nanti ambeknya gede. katanya.